Author Archives: adminrexo

016731600_1432790655-cethe_2

Cethe: “Manunggaling” Rokok-Kopi

Citizen6, Jakarta Cethe, budaya yang dibawa dari kota penghasil marmer terbesar di ujung timur pulau Jawa, Tulungagung, ini memadukan kopi dan rokok dalam sebuah cita rasa seni. Cethe merupakan kegiatan ‘membatik’ dengan ampas kopi pada sebatang rokok. Gambar yang dibuat mulai dari motif batik bahkan hingga wajah realis.

Ampas kopi yang biasa digunakan haluslah ampas kopi yang sangat halus, disebut sebagai wedang kopi cethe. Untuk mendapatkan ampas kopi ini pertama tentu saja bubuk kopi yang sangat halus, kemudian diseduh seperti biasa. Jika diseduh dalam gelas, biarkan hingga semua ampasnya turun dan mengendap, setelah itu air kopinya dipindahkan ke wadah lain. Bisa juga dengan menyeduhnya di atas piring kecil dan mengeringkannya dengan tissue sehingga diperoleh endapan yang lebih baik.

Setelah endapan kopi terkumpul, alat yang digunakan untuk nyethe bisa tusuk gigi ataupun sebatang korek api dengan ujung yang runcing. Perlu kehati-hatian luar biasa untuk nyethe ini mengingat kertas pembungkus rokok yang tipis dan mudah hancur. Setelah gambar selesai dibuat, rokok dikeringkan sampai benar-benar kering dan tidak tersisa  endapan kopi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Rokok dan kopi seperti teman sejati. Mereka bisa bekerja sama menemani obrolan hingga pagi. Mereka juga bisa bergabung mengusir sakit kepala hingga sakit hati, menenangkan diri. Lalu mereka bersatu dalam sebuah karya seni, manunggaling rokok-kopi.

adminrexo
clove

Mengenal Kretek, Rokok Asli Khas Nusantara

Citizen6, Jakarta Kretek merupakan jenis rokok yang menggunakan tembakau kering alami dan cengkeh, sehingga pada saat dihisap akan terdengar suara “kretek..kretek..”. Berbeda dari rokok putih yang sama sekali tidak menggunakan cengkeh, kretek justru memberi kenikmatan dari saus cengkeh yang terkandung didalamnya.

Kretek diawal mula ditemukan menurut beragam cerita adalah oleh Haji Djamari sekitar abad ke 19. Kala itu Haji Djamari, penduduk asli Kudus ini merasa sakit di bagian dada. Lalu dia pun mencoba mengoleskan minyak cengkeh yang kemudian membuat rasa sakitnya mereda. Kemudian Djamari mencoba bereksperimen dengan cengkeh lalu digabung dengan tembakau, dilinting untuk kemudian dibakar menjadi rokok.

Setelah rutin mengisap rokok kretek ini, sakit dada yang seringkali diderita Haji Djamari mulai sembuh. Dia pun mengabarkan penemuannya ini pada kerabat-kerabatnya. Alhasil, ‘rokok obat’ ini menjadi trend terutama di kalangan kaum Adam dan permintaan rokok kretek ini semakin meningkat. Rokok kretek alami ini dahulu menggunakan daun jagung kering sebagai pembungkus yang disebut dengan klobot.

Lain halnya jika menggunakan daun aren, maka disebut Kawung. Kretek yang menggunakan daun tembakau dinamakan cerutu. Sedangkan jika bahan pembungkusnya berupa kertas maka disebut sigaret. Industri rokok kretek pertama kali dirintis oleh Nitisemito dengan merk dagang ‘Tjap Bal Tiga’ dengan jumlah pekerja lebih dari 10.000 orang di Kudus.

Seiring berjalan waktu dan persaingan yang semakin ketat, Tjap Bal Tiga milik Nitisemito tidak mampu bersaing dengan 12 pabrik rokok besar lainnya. Kini, industri rokok semakin dilematik diantara argumen kesehatan dan jutaan masyarakat yang hidup dari industri rokok baik sebagai petani tembakau ataupun buruh pabrik rokok.

adminrexo
error: Content is protected !!